Ruang Baru Anak Muda Menjadi Politisi Formal


Mantan Aktivis Korpus BEM SI, Mantan Presma Universitas Mataram dan kini Wakil Ketua Bidang Kepemudaan dan Olahraga DPD I Partai Golkar NTB

Dari Jalanan ke Parlemen: Aktivisme yang Bertransformasi

​Saya lahir dan tumbuh dari rahim aktivisme. Sebagai mantan Presiden Mahasiswa Universitas Mataram dan bagian dari korpus aktivis kampus yang dikenal gigih, bagi saya aktivisme adalah merentangkan ideal diskusi panjang, aksi turun ke jalan, hingga terlibat pada perubahan struktural bagi banyak orang. Aktivisme memberi saya bekal berharga: keberanian bersuara, kepekaan sosial, dan bagaimana hukum serta alur nalar tidak boleh diovenkan.
​Namun, seiring waktu, saya menyadari perjuangan tidak boleh berhenti di mimbar. Aksi turun ke jalanan semestinya diselesaikan dengan langkah konkret di ruang pengambilan keputusan, bukan malah meredup dengan gema yang begitu saja. Di sinilah politik formal hadir, bukan sebagai lawan aktivisme, tetapi saling melengkapi demi tujuan.

​Golkar: Partai Tua dengan Semangat Muda
​Banyak orang menyukai Partai Golkar hanya sebagai partai tua dengan sejarah panjang. Namun, di saat yang sama, kekhawatiran lahir: Golkar adalah partai yang tidak pernah beranjak dan kader militan dan berani mewarisi energi lagi mesti harus tumbuh.
​Golkar tidak hanya berinvestasi pada retorika regenerasi, tetapi menyadari bahwa Partai ini yang menjadi wadah estafet. Jangan jumawa, anak-anak muda bisa belajar politik sejak dini, memulai di ranah kerja-kerja ideologi, organisasi, dan strategi, namun bukan di dalam ruang partai lain sering terjebak dalam dikotomi eksklusif. Golkar justru menawarkan ruang untuk anak-anak muda ingin berproses, termasuk mereka yang lahir dari tradisi aktivisme.

​Kesempatan Emas Bagi Anak Muda Kritis
​Generasi muda hari ini menghadapi dilema: apakah cukup puas menjadi pengkritik dari luar, atau berani masuk untuk berjuang dari dalam? Golkar menawarkan peluang yang pasti: anak muda harus berani masuk ke ruang politik formal.
​Bukan berarti meninggalkan idealisme, tetapi justru menyalurkannya dalam format kebijakan, bukan hanya retorika. Generasi muda mesti ditempa secara dua kali lipat, dan diperuntukkan hingga menjadi keputusan yang berkelindan di dalamnya, bukan sekadar simbol.
​Saya percaya, anak muda yang kritis dan memiliki gagasan segar tentang pendidikan, ekonomi, lingkungan, maupun pembangunan daerah tidak akan gentar melangkah masuk ke ruang yang bukan panggung itu. Tinggal bagaimana generasi muda berani melangkah, bukan hanya meminta tentang perubahan, tetapi ikut serta mewujudkannya.

​Dari Aktivitas ke Politis: Sebuah Amanah
​Ketika saya diberi amanah sebagai Ketua AMPG sekaligus Wakil Ketua Bidang Kepemudaan dan Olahraga DPD I Partai Golkar NTB, saya menyadari bahwa posisi ini bukan hanya jabatan, tetapi sebuah jawab moral. Amanah ini adalah panggilan untuk membuktikan bahwa aktivisme bisa terus relevan dan transformatif, bukan musuh politik. Justru, di sinilah aktivisme menemukan jalur baru: memajukan gagasan, bukan hanya sebatas kritik.

​Saya ingin menjadi contoh bahwa aktivis tidak berhenti di forum diskusi atau di jalanan, melainkan bisa hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan sebagai pejuang yang sebenarnya.

​Menatap Masa Depan: NTB dan Indonesia
​Saya yakin, masa depan NTB dan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari partisipasi anak muda. Di tengah kompleksitas masalah, ditambah oleh gejolak mahasiswa, yang terbiasa berpikir kritis, harus hadir di ranah politik dan kebijakan. Kritik harus diolah menjadi solusi. Idealisme mereka tidak padam.

​Golkar telah membuka pintu, dan kini giliran anak anak muda untuk berani melangkah. Saya menginginkan NTB melahirkan pemimpin yang solid sebagai duta Golkar yang menyegarkan, melainkan sebagai seorang pemegang obor yang melambangkan integritas, kerja keras, dan keberanian moral.

​Pada kesempatan ini, saya ingin menegaskan untuk semua anak muda NTB dan Indonesia: jangan takut masuk ke politik. Jangan biarkan dikotomi berpikir menjadi kerangkeng yang parah. Mari bersama berjuang agar ruang politik formal menjadi milik kita. Karena perubahan tidak hanya dituntut dalam bentuk aksi, tetapi juga diputuskan di meja kebijakan.

Rate this article

Loading...

Posting Komentar

© Berita Kawan Heri KH. All rights reserved.